Mendung
dihatiku kembali menyeruak, merampas sisa-sisa kekuatanku, dan aku disini
berdiri menatap perjalananku sendiri.
Lantas debat
panjang tanpa katapun dimulai, sebenarnya, aku ingin sekali tega kepadamu,
karena aku sudah sedemikian lelah tersandung persoalan yang itu-itu saja.
Aku
ingin sekali tega kepadamu, berteriak sekencang-kencangnya, agar kau jera, tak
lagi bermain-main dengan sepi, berdiam-diaman, berpura-pura tak ada apa-apa,
demi sebuah keutuhan yang terlihat dari luar.
Kurasa
engkau tau apa artinya sepi, tapi sungguh, ini berbeda sekali, kita hanya
memaksa tak bicara, dan aku merasa seperti bersembunyi dibalik aku diseberang
sana.
Aku merasa bukanlah aku yang sebenarnya, melucuti diri setengah menyerah,
diam tanpa kata.
Dulu aku
selalu berpendapat,mengenalmu adalah sebuah `anugrah`, setidaknya itu benar, jika di ukur dari
kwalitas ritual spritualku sebelum mengenalmu, misalnya.
Hanya saja peraturan
tak tertulis, yang melarangku untuk mengenalmu lebih jauh, kuanggap `aneh` dan
amat tidak biasa, pasalnya aku mulai menangkap benang merah yang terbentang
tipis diantara engkau dan dia dimasa laluku, menyekat semua aroma yang nyaris
ku tandai lagi.
Kadang, aku memandangi dia, rasanya
seperti aku memandang diri sendiri.
Bila ia adalah aku, aku tidak mengerti bagaimana bisa aku
dikatakan telah melucuti sesuatu, melihat dan merasakan kegelapan dasar itu.
Aku seperti bersembunyi di balik sesuatu. Aku bagaikan malaikat di mataku sendiri. Aku melihat dia si malaikat.
Kuabaikan menengok makhluk di
belakangku.
Di belakangku seperti bergeming dan melotot dan ingin menguasai lagi aliran darahku.
Akh .... aku tidak ingin
lagi membayangkan aku yang di belakang, itu memang aku yang lampau, aku yang selalu takut pada aku sendiri.
Lantas Aku yang di
sini, aku yang siapa? Jika itu kamu? mengapa kamu diam saja?
Tiba-tiba aku merasa ingin berkata.
“Aku ingin Tuhan marah kepadamu." karena
aku sudah lelah bermain-main dalam sepi, bicara sendiri dalam hati, berdoa,
tertawa, mengerutu, menangis, lalu berdoa lagi, begitu seterusnya, tetap dalam
hening yang sama, dengan waktu yang berbeda.
Yaaaa Allah …, apa ini namanya,Ketika aku baru saja usai bermunajat kepadaMU, menyertakan sejumlah rasa syukurku, yang lantas diam-diam kuselipkan harapan akan adanya sebuah pengakuan akan AmpunanMU, aku tertegun lama.Yaa Allah, apa ini namanya,Ketika sebelumnya aku merasa sedemikian `yakin` atas `Kebenaran` sikapku, serasa BENAR di MataMU, yang kemudian kulihat, itu tak ada ..Yaaa Allah.. apa ini namanya,Ketika pada akhirnya, aku, mau tak mau mengakui, Engkau lebih tau apa lebih kubutuhkan.Yaa Allah .., apa ini namanya,Jika lagi-lagi aku terkesima, bahwa Engkau suka sekali mengodaku, menunda apa yang menjadi maukuYaa Allah, ini kah pembuka..? temaliMU melalui dia terasa pedih ditelapak tanganku.
Bandarlampung, 07 Mai 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar